Dari Kepompong Mejadi Penyebar rahmat

untuk memenuhi berbagai keinginan yang kian
membuncah tanpa kendali, manusia modern
tak henti bekerja. Berbagai kesibukkan dunia begitu membelit hingga tak sempat
melihat ke arah mana sesungguhnya langkah
hidupnya menuju. Yang didengar hanya nafsu
tamak yang selalu merasa kurang dan ingin mengejar agar
bisa mendapatkan lebih tanpa berpikir apa maknanya.
Kita, umat Islam, yang hidup di tengah berbagai
tuntutan kesibukan yang tanpa arah dan makna itu, boleh
jadi ikut terwarnai juga. Maka, sungguh sangat besar
manfaatnya jika di bulan Ramadhan, sejenak kita mau
berhenti.
Dalam beberapa hari kita mengambil jarak dengan
rutinitas untuk secara intens bermuhasabah dan menjalin
hubungan dengan Allah ~ semata agar sejumput iman
yang masih tersisa tidak kering dan layu dibakar oleh
ketamakan. Apa yang mesti kita lakukan?
Salah satu amalan rutin yang dilakukan Rasulullah
~ pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah
menyendiri dan memutuskan hubungan dengan berbagai
kegiatan keluarga dan masyarakat. Menurut Al-Kubaisi,
Nabi ~ menjauhi tempat tidurnya, mengencangkan
ikat pinggangnya, lalu pergi menyendiri ke masjid untuk
berdiri dan sujud guna beribadah kepada Rabbnya dengan
khusyuk.
BERKEPOMPONG
Sebelum akhirnya bersayap indah, seekor kupu-kupu
mengalami fase berkepompong. Pada masa itu, bentuknya
masih berupa ulat. Yang semula rakus memakan dan
merusak dedaunan, saat itu ia berpuasa. Setelah beberapa
waktu, ulat yang menjijikkan itu tumbuh sayap-sayapnya.
la pun keluar dari kepompong, dan benar-benar menjadi makhluk yang baru sama sekali. Masya Allah, sebuah
metamorfosa yang sempurna.
Jiwa manusia, saat dikuasai hawa nafsu, tak ubahnya
seperti seekor ulat yang rakus dan selalu berbuat kerusakan. Tak ada kebaikan yang bisa diharap jika hawa nafsu
masih dominan. Berbagai kenikmatan yang sebenarnya
bisa menjadi modal kebaikan, malah diselewengkan untuk
berbuat kerusakan. Kekayaan yang semestinya bisa untuk
berbagi, malah hanya untuk kesombongan.
Jabatan yang seharusnya bisa bermanfaat untuk
menegakkan keadilan dan meratakan kesejahteraan,
malah digunakan untuk melampiaskan kepuasan hawa
nafsu. Bahkan ilmu yang bisa mencerahkan umat, justru